Catatan di Waktu Senggang: Oh...sawah...riwayatmu kini....

Minggu, 17 Juli 2011

Oh...sawah...riwayatmu kini....




Menarik jika melihat perkembangan akhir-akhir ini dimana banyak area persawahan yang berubah fungsi menjadi lahan untuk bangunan. Salah satunya terjadi di daerah desa Tani Mulya-Cimahi Jawa Barat. Seperti terlihat di foto terdapat 1 petak sawah yang dikelilingi lapangan dan juga beberapa bangunan. Satu tahun yang lalu area lapangan dan tanah dimana gedung berdiri adalah lahan persawahan yang luas. Perkembangan jaman membuat area persawahan yang dulunya luas menjadi sempit karena untuk memenuhi kebutuhan pokok yang lain. Sepetak tanah sawah yang tersisa tersebut hampir dipastikan akan berubah fungsi tidak lama lagi.

Hal ini tentu tidak bisa dibiarkan berlangsung terus. Jika area persawahan semakin sempit dimana lagi kita bisa menanam tanaman pangan yang kita butuhkan dan tidak mungkin swasembada pangan yang kita cita-citakan akan terwujud. Memang beralihnya fungsi lahan persawahan adalah untuk memenuhi kebutuhan pokok yang lain yang juga tidak kalah penting seperti perumahan, tapi tidak seharusnya dalam memenuhi kebutuhan pokok harus mengorbankan sarana pemenuhan kebutuhan pokok yang lain.

Jika ditelaah ada beberapa penyebab yang mengakibatkan beralihnya fungsi lahan persawahan yaitu:
  1. Kebutuhan lahan untuk perumahan. Peningkatan jumlah penduduk menyebabkan kebutuhan perumahan juga menigkat. Jika semua lahan non produktif telah berubah menjadi lahan perumahan maka untuk memenuhi kebutuhan lahan perumahan mau tidak mau mengorbankan lahan produktif seperti area persawahan.
  2. Kebutuhan sarana pendidikan. Perkembangan pola pikir masyarakat menyebabkan kebutuhan akan sarana pendidikan juga meningkat sehingga kebutuhan akan lahan untuk membangun gedung-gedung sekolah juga meningkat. Seperti terjadi di desa Tani Mulya, area persawahan tersebut akan dijadikan komplek sekolah untuk memenuhi kebutuhan sarana pendidikan masyarakat sekitar.
  3. Para pemilik sawah melihat semakin hari keuntungan dari usaha menggarap sawah semakin kecil bahkan tidak mencukupi kebutuhan hidup lagi. Berbagai masalah dari harga bibit, ketersediaan pupuk bersubsidi mempengaruhi hasil dari pengolahan sawah. Hal ini menyebabkan petani mengalihkan usahanya dari bertani ke usaha yang lain yang dipandang lebih menguntungkan.
  4. Pembagian warisan. Saat orang tua yang mempunyai lahan pertanian merasa sudah waktunya untuk membagi warisan ke anak-anaknya maka orang tua akan mencari cara yang praktis dan berkenan bagi semua anak untuk membagi warisan. Jika warisan dibagi dalam bentuk tanah maka ada kemungkinan akan menghadapi masalah yang lain. Prosedur pembagian tanah misalnya, dari satu sertifikat kemudian harus dirubah ke beberapa sertifikat untuk masing-masing anak tentu membutuhkan biaya lagi, seperti kita tahu birokrasi di Indonesia belum sepenuhnya sederhana. Belum lagi kemungkinan perselisihan batas tanah di kemudian hari antara anak-anak. Karena itu orang tua lebih memilih cara yang praktis dengan menjual tanah miliknya untuk kemudian dibagi uangnya ke anak-anak mereka.
 Dari penyebab diatas maka bisa kita simpulkan bahwa sudah waktunya dilakukan usaha-usaha untuk menekan beralihnya fungsi lahan pertanian. Salah satu cara adalah pemerintah menetapkan kawasan tanah produktif dimana kawasan tersebut ditetapkan sebagai area produksi pangan. Untuk mencegah agar lahan tersebut tidak beralih fungsi bisa dengan cara pemerintah membeli kawasan tersebut dan menetapkan sebagai tanah milik negara kemudian membentuk semacam BUMN yang bertugas mengolah tanah tersebut untuk sarana produksi pangan.Jika tidak segera dilakukan bisa dibayangkan suatu hari kelak anak cucu kita tidak akan bisa menikmati tanaman pangan hasil bumi negara sendiri karena lahan yang habis, semuanya harus diimpor (itupun dengan catatan jika negara lain juga masih punya tanah untuk memproduksi tanaman pangan).


3 komentar :

  1. MARI KITA BUAT PETANI TERSENYUM KETIKA PANEN TIBA

    Petani kita sudah terlanjur memiliki mainset bahwa untuk menghasilkan produk-produk pertanian berarti harus gunakan pupuk dan pestisida kimia.
    NPK yang antara lain terdiri dari Urea, TSP dan KCL serta pestisida kimia pengendali hama sudah merupakan kebutuhan rutin para petani kita, dan sudah dilakukan sejak 1967 (masa awal orde baru) hingga sekarang.
    Produk hasil pertanian mencapai puncaknya pada tahun 1984 pada saat Indonesia mencapai swasembada beras dan kondisi ini stabil sampai dengan tahun 1990-an. Capaian produksi padi saat itu bisa 6 -- 8 ton/hektar.
    Petani kita selanjutnya secara turun temurun beranggapan bahwa yang meningkatkan produksi pertanian mereka adalah Urea, TSP dan KCL, mereka lupa bahwa tanah kita juga butuh unsur hara mikro yang pada umumnya terdapat dalam pupuk kandang atau pupuk hijau yang ada disekitar kita, sementara yang ditambahkan pada setiap awal musim tanam adalah unsur hara makro NPK saja ditambah dengan pengendali hama kimia yang sangat merusak lingkungan dan terutama tanah pertanian mereka semakin rusak, semakin keras dan menjadi tidak subur lagi.
    Sawah-sawah kita sejak 1990 hingga sekarang telah mengalami penurunan produksi yang sangat luar biasa dan hasil akhir yang tercatat rata-rata nasional hanya tinggal 3, 8 ton/hektar (statistik nasional 2010).

    Tawaran solusi terbaik untuk para petani Indonesia agar mereka bisa tersenyum ketika panen, maka tidak ada jalan lain, perbaiki sistem pertanian mereka, ubah cara bertani mereka, mari kita kembali kealam.

    System of Rice Intensification (SRI) yang telah dicanangkan oleh pemerintah (SBY) beberapa tahun yang lalu adalah cara bertani yang ramah lingkungan, kembali kealam, menghasilkan produk yang terbebas dari unsur-unsur kimia berbahaya, kuantitas dan kualitas, serta harga produk juga jauh lebih baik.
    SRI sampai kini masih juga belum mendapat respon positif dari para petani kita, karena pada umumnya petani kita beranggapan dan beralasan bahwa walaupun hasilnya sangat menjanjikan, tetapi sangat merepotkan petani dalam proses budidayanya.

    Selain itu petani kita sudah terbiasa dan terlanjur termanjakan oleh system olah lahan yang praktis dan serba instan dengan menggunakan pupuk dan pestisida kimia, sehingga umumnya sangat berat menerima metoda SRI ini.
    Mungkin tunggu 5 tahun lagi setelah melihat petani tetangganya berhasil menerapkan metode tersebut.

    Kami tawarkan solusi yang lebih praktis yang perlu dipertimbangkan dan sangat mungkin untuk dapat diterima oleh masyarakat petani kita untuk dicoba, yaitu:

    "BERTANI DENGAN POLA GABUNGAN SISTEM SRI DIPADUKAN DENGAN PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK AJAIB SO / AVRON / NASA + EFFECTIVE MICROORGANISME 16 PLUS (EM16+), DENGAN SISTEM JAJAR LEGOWO", hasilnya lebih baik, bisa meningkat 1 -- 4 kali disbanding pola bertani biasa.

    Cara gabungan ini hasilnya tetap PADI ORGANIK yang ramah lingkungan seperti yang dikehendaki pada pola SRI, tetapi cara pengolahan tanah sawahnya lebih praktis, dan hasilnya bisa meningkat 100% — 400% dibanding pola tanam konvensional seperti sekarang.

    Ditunggu komentarnya di omyosa@gmail.com, atau di 02137878827, 081310104072, atau bisa juga komentar langsung di http://frigiddanlemahsahwat.blogspot.com/2011/07/pertanian-pembangunan-pertanian.html

    BalasHapus
  2. MARI KITA BUAT PETANI TERSENYUM KETIKA PANEN TIBA


    PUPUK ORGANIK AJAIB SO/AVRON/NASA merupakan pupuk organik lengkap yang memenuhi kebutuhan unsur hara makro dan mikro tanah dengan kandungan asam amino paling tinggi yang penggunaannya sangat mudah,
    sedangkan EM16+ merupakan cairan bakteri fermentasi generasi terakhir dari effective microorganism yang sudah sangat dikenal sebagai alat composer terbaik yang mampu mempercepat proses pengomposan dan mampu menyuburkan tanaman dan meremajakan/merehabilitasi tanah rusak akibat penggunan pupuk dan pestisida kimia yang tidak terkendali,
    sementara itu yang dimaksud sistem jajar legowo adalah sistem penanaman padi yang diselang legowo/alur/selokan, bisa 2 padi selang 1 legowo atau 4 padi selang 1 legowo dan yang paling penting dalam tani pola gabungan ini adalah relative lebih murah.

    CATATAN:
    1. Bagi Anda yang bukan petani, tetapi berkeinginan memakmurkan/mensejahterakan petani sekaligus ikut mengurangi tingkat pengangguran dan urbanisasi masyarakat pedesaan, dapat melakukan uji coba secara mandiri system pertanian organik ini pada lahan kecil terbatas di lokasi komunitas petani sebagai contoh (demplot) bagi masyarakat petani dengan tujuan bukan untuk Anda menjadi petani, melainkan untuk meraih tujuan yang lebih besar lagi, yaitu ANDA MENJADI AGEN SOSIAL penyebaran informasi pengembangan system pertanian organik diseluruh wilayah Indonesia.
    2. Cara bertani organik tidak saja hanya untuk budidaya tanaman padi sawah, tetapi bisa juga untuk berbagai produk-produk Agro Bisnis yang meliputi pertanian (padi, palawija, buah dan sayuran), perkebunan, perikanan, dan peternakan.

    Hasil panen setelah menggunakan Pupuk Ajaib SO
    Kesaksian untuk tanaman pertanian tanpa pestisida kimia, dan perangsang tumbuh tambahan lainnya :
    * Cabe Organik bias mencapai 6 kg/pohon, dan umur tanaman bisa sampai 3 tahun.
    * Padi Organik bias mencapai rata-rata 16—24 ton / hektar.
    * Bawang Merah Organik bisa mencapai diatas 24--36 ton / hektar
    * Jamur Tiram Organik bisa meningkat 300 % dari biasanya, dan bebas ulat !
    * Bawang Daun Organik bisa mencapai rata-rata 1 kg/batang
    * Kol Organik bisa mencapai rata-rata 5-8 kg/pohon
    * Sawit yg sudah tidak produktif bisa kembali lagi produktif, sedangkan yg diberi pupuk
    kimia tidak ada perubahan
    Kesaksian untuk hewan dan ikan tanpa vaksin, antibiotik, dan vitamin lainnya :
    * Nila 3cm dirawat 2 minggu bisa sebesar umur 2 bulan padahal pakannya hanya
    ampas tahu & bekatul.
    * Bebek afkir yang biasanya telurnya hanya 10% bisa meningkat jadi 50% lebih.
    * Sapi beratnya meningkat di atas 1,5 kg/hari padahal pakannya hanya daun-
    daunan saja.
    * Broiler bisa panen pada hari ke 28-29 berat 1,5-1,7 kg
    * Pembibitan lele angka kematian bisa sampai pada 0%
    * Budidaya belut bibit 3 bulan bisa mencapai berat rata-rata 500 gram/ ekor
    * Lele 5—7 cm bisa panen dalam waktu 29 hari

    Semoga petani kita bisa tersenyum ketika datang musim panen.

    AYOOO PARA PETANI DAN SIAPA SAJA YANG PEDULI PETANI!!!! SIAPA YANG AKAN MEMULAI? KALAU TIDAK KITA SIAPA LAGI? KALAU BUKAN SEKARANG KAPAN LAGI?

    Anda siap menjadi donatur bagi pekerja sosial agen penyebaran informasi, atau Anda sendiri merangkap sebagai pekerja sosial agen penyebaran informasi itu dilokasi sekitar anda berada, atau pada wilayah yang lebih luas lagi diseluruh Indonesia?

    Ditunggu komentarnya di omyosa@gmail.com, atau di 02137878827, 081310104072, atau bisa juga komentar langsung di http://frigiddanlemahsahwat.blogspot.com/2011/07/pertanian-pembangunan-pertanian.html

    BalasHapus
  3. wah panjang komentarnya....heheheh.....cocok untuk artikel lagi. terima kasih atas kunjungannya ya...salam

    BalasHapus

host gator coupon Link Bait Service SEO Software